Panduan Wisata Religi Masjid Istiqlal

Panduan Wisata Religi Masjid Istiqlal

Masjid Istiqlal ini juga menjadi salah satu daya tarik wisata yang terkenal di Jakarta. Kebanyakan wisatawan yang berkunjung umumnya wisatawan domestik, dan sebagian wisatawan asing yang beragama Islam. Masyarakat non-Muslim juga dapat berkunjung ke masjid ini setelah sebelumnya mendapat pembekalan informasi mengenai Islam dan Masjid Istiqlal, meskipun demikian bagian yang boleh dikunjungi kaum non-Muslim terbatas dan harus didampingi pemandu.

Perpustakaan Istiqlal

Perpustakaan Istiqlal

Perpustakaan Istiqlal pada awalnya dirintis oleh Pusat Dakwah Islam Indonesia (PDII) dengan nama Pusat perpustakaan Islam Indonesia (PPII) sebagai tindak lanjut dari rekomendasi Seminar Nasional Dakwah tahun 1969 bahwa di lingkungan Masjid Istiqlal perlu dibentuk sebuah perpustakaan Islam dalam rangka memenuhi kebutuhan sumber informasi Islam bagi para ulama dan masyarakat Islam pada umumnya. Sebagai modal dasar, Presiden RI melalui DIP pada tahun 1973/1974 memberikan bantuan sebesar 50.000.000 (lima puluh juta rupiah) untuk pengadaan koleksi dan sarana perpustakaan.

Karena kondisi dan tempat yang belum memungkinkan pada saat Masjid Istiqlal sedang dibangun, maka untuk sementara PPII ditempatkan di komplek Museum Fatahillah Jakarta Kota, kemudian pada tahun 1975 kegiatan PPII dipindahkan ke Wisma Sejahtera unit IAIN (Sekarang UIN) di Ciputat dan tahun 1977 dipindahkan lagi ke komplek pendidikan Yayasan Said Naum di Jl Kyai Mas Mansur Tanah Abang, Jakarta Pusat. Akhirnya setelah berpindah pindah tempat, pada tahun 1980 PPII mulai dipindahkan ke Masjid Istiqlal dan menempati ruang 7 lantai dasar Masjid Istiqlal

Visi dan Misi

Visi : Terwujudnya Perpustakaan Islam Modern dengan koleksi yang berkualitas, sistem pengelolaan yang mutakhir dan sumber daya manusia yang professional.

Misi :

a. Membangun dan mengembangkan perpustakaan Islam, berbasis teknologi, informasi yang meliputi perpustakaan dewasa dan perpustkaan anak.

b. Membangun ketenagaan perpustakaan Islam.

c. Membangun dan mengembangkan jaringan informasi Islam.

d. Menerbitkan publikasi Islam.

Tujuan

a. Meningkatkan pengetahuan kaum muslimin dalam rangka pembangunan manusia Indonesia seutuhnya dan masyarakat seluruhnya berdasarkan pancasila dan Undang Undang Dasar 1945.

b. Meningkatkan pengertian dan kesadaran kaum muslimin akan ajaran agamanya dalam menunjang pembangunan di segala bidang

c. Membantu Pemerintah dan masyarakat pada umumnya dalam upaya mencerdaskan kehidupan bangsa melalui peningkatan budaya baca.

d. Menignkatkan profesionalitas ketenagaan perpustakaan masjid

e. Mewujudkan pusat pengkajian Islam melalui jaringan perpustakaan Islam.

Fungsi

a. Menyediakan sumber-sumber informasi Islam meliputi buku-buku keagamaan dan pengetahuan umum lainnya di Masjid Istiqlal.

b. Merintis berdirinya perpustakaan masjid dan taman bacaan masyarakat.

c. Menyelenggarakan koordinasi dan kerjasama perpustakaan masjid dan perpustakaan Islam lainnya serta dengan lembaga lembaga perpustakaan, dokumentasi dan informasi pada umumnya melalui system jaringan informasi Islam.

d. Mengadakan pembinaan dan pelatihan perpustakaan Masjid dan Perpustakaan Islam.

e. Melakukan pengkajian-pengkajian Islam dan temu ilmiah keagamaan .

f. Mengadakan kegiatan (peningkatan budaya baca masyarakat).

g. Menyelenggarakan penerbitan monografi dan majalah Islam.

Lingkup Kegiatan

Sejalan dengan fungsinya sebagai pusat informasi Islam dan lembaga pengembangan kemasyarakatan, PPII melakukan berbagai kegiatan Antara lain.

a. Menyelenggarakan Perpustakaan Islam.

b. Mengembangkan jaringan Perpustakaan Islam.

c. Menyelenggarakan berbagai temu karya dan temu Ilmiah.

d. Menerbitkan berbagai publikasi Islam.

e. Menyelenggarakan dokumentasi literer Islam.

Madrasah Istiqlal

Madrasah Istiqlal

Masjid Istiqlal memiliki sebuah Madrasah yang berada dibawah naungan Yayasan Istiqlal Indonesia. Madrasah Istiqlal sebagai Madrasah satu atap diawali dengan penyelenggaraan Taman Kanak-Kanak Islam/Raudhatul Athfal pada tanggal 26 Juli 1999 atas arahan Ketua Badan Pelaksana Pengelola Masjid Istiqlal pada saat itu Bapak Drs. H. Mubarok, M.Si. Penyelenggaraan Taman Kanak-Kanak Islam Istiqlal ditetapkan dengan surat keputusan Nomor: 14/SK/BPPMI/VII/2001, dengan penanggung jawab Ibu Hj. Nibras OR. Salim (ketua umum BPTKI pada saat itu), yang dalam perkembangan selanjutnya disebut dengan pendidikan anak usia dini (PAUD). Jumlah siswa pada tahun pertama sebanyak 4 (empat) orang. Untuk saat ini jumlah siswa PAUD Istiqlal sebanyak 110 siswa dengan prestasi; terpilih sebagai PAUD unggulan tingkat DKI Jakarta yang ditetapkan oleh Direktorat Jenderal Pendidikan Non Formal dan Informal Departemen Pendidikan Nasional pada tahun 2007.

Pada tanggal 1 Juli 2004, atas permintaan POMG (sekarang Komite Sekolah), diselenggarakan Sekolah Dasar Islam, yang pada waktu itu dengan menggunakan istilah kelompok C, mengingat pada saat itu belum tersedianya stándar pendidikan sebagaimana yang sudah ditetapkan oleh pemerintah. Jumlah siswa pada tahun pertama sebanyak 8 (delapan) orang.

Pada tanggal 01 Juli 2007, atas keputusan Bapak Menteri Agama RI, Dr. H. Muhammad Maftuh Basyuni, lembaga pendidikan yang berada di Masjid Istiqlal yang sebelumnya di bawah binaan Kementerian Pendidikan Nasional RI, berubah status berada di bawah binaan Kementerian Agama RI dengan nama Madrasah Istiqlal Jakarta. Pada waktu bersamaan pula, atas petunjuk Bapak Menteri Agama diselenggarakan Madrasah Tsanawiyah Istiqlal dengan jumlah siswa pada tahun pertama sebanyak 2 (dua) orang.

Sampai saat ini Madrasah Istiqlal telah menyelenggarakan 4 (empat) jenis layanan satuan pendidikan yang meliputi:

1. Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) yang terdiri dari Kelompok Bermain dan Raudhatul Athfal Istiqlal, berdasarkan Surat Keputusan Ketua Badan Pelaksana Pengelola Masjid Istiqlal Nomor: 30A/SK/BPPMI/V/2006.

2. Madrasah Ibtidaiyah, berdasarkan Surat Keputusan Ketua Badan Pelaksana Pengelola Masjid Istiqlal Nomor: 30B/SK/BPPMI/V/2006

3. Madrasah Tsanawiyah, berdasarkan Surat Keputusan Ketua Badan Pelaksana Pengelola Masjid Istiqlal Nomor: 85A/SK/BPPMI/VII/2007

4. Madrasah Aliyah, berdasarkan Surat Keputusan Ketua Badan Pelaksana Pengelola Masjid Istiqlal Nomor: 028/SK/BPPMI/II/2012.

Hari ulang tahun Madrasah Istiqlal ditetapkan tanggal 26 Juli.

Kunjungi situsnya:  Madrasah Istiqlal

Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar, MA

Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar, MA

Imam Besar Masjid Istiqlal

Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar, MA (lahir di Ujung-Bone, Sulawesi Selatan, 23 Juni 1959 ; umur 57 tahun) sekarang beliau adalah Imam Besar masjid Istiqlal yang diangkat oleh Menteri Agama, Lukman Hakim Syaifuddin. Beliau adalah mantan Wakil Menteri Agama Republik Indonesia yang menjabat dari tahun 2011 sampai 2014. Ia juga merupakan pendiri organisasi lintas agama untuk Masyarakat Dialog antar Umat Beragama dan pernah menjabat sebagai Dirjen pada Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam di Departemen Agama/ Kementerian Agama Republik Indonesia. Beliau juga adalah anggota dari Tim Penasehat Inggris-Indonesia yang didirikan oleh mantan perdana menteri Inggris, Tony Blair.  Continue reading

Menara Masjid Istiqlal

Menara Masjid Istiqlal

Menara Masjid Istiqlal adalah bangunan yang pertama kali dibangun, saat pembangunan Masjid Istiqlal dimulai.

  • Tinggi tubuh menara marmer: 6.666 cm = 66.66 meter
  • Tinggi kemuncak (pinnacle) menara baja antikarat: 30 meter
  • Tinggi total menara: sekitar 90 meter
  • Diameter menara 5 meter

Dalam tradisi Islam Klasik, bangunan menara biasa digunakan sebagai tempat Muadzin mengumandangkan adzan. Pada Menara Masjid Istiqlal di atasnya terdapat pengeras suara yang dapat menyuarakan adzan ke kawasan sekitar masjid.

Menara megah tersebut melambangkan keagungan Islam, dan kemuliaan kaum muslimin. Keistimewaan lainnya, menara yang terletak di sudut selatan masjid, dengan ketinggian 6.666 cm ini dinisbahkan dengan jumlah ayat-ayat Al-Quran. Pada bagian ujung atas menara, berdiri kemuncak (pinnacle) dari besi baja yang menjulang ke angkasa setinggi 30 meter sebagai simbol dari jumlah juz dalam Al-Quran. Menara dan kemuncak baja ini membentuk tinggi total menara sekitar 90 meter.

Puncak menara yang meruncing dirancang berlubang-lubang terbuat dari kerangka baja tipis. Angka 6.666 merupakan simbol dari jumlah ayat yang terdapat dalam AL- Quran, seperti yang diyakini oleh sebahagian besar ulama di Indonesia.

Bangunan Utama

Bangunan Utama

Masjid Istiqlal yang megah ini adalah bangunan berlantai dua. Lantai pertama untuk perkantoran, ruang pertemuan, instalasi AC sentral dan listrik, kamar mandi, toilet dan ruang tempat wudhu. Lantai dua, untuk salat yang terdiri dari ruang salat utama dan teras terbuka yang luas guna untuk menampung jemaah yang melimpah terutama pada saat salat Idul Fitri dan Idul Adha.

Lantai utama yang disediakan untuk ruang sholat baik Rawatib ataupun sholat sunnat lainnya terletak di gedung utama dengan daya tampung 61.00 orang jamaah.

berikut adalah detail tentang Lantai utama Masjid Istiqlal

  • Tinggi: 60 meter
  • Panjang: 100 meter
  • Lebar: 100 meter
  • Tiang pancang: 2.361 buah

Di bagian depan terdapat Mihrab tempat di mana imam memimpin sholat jamaah, dan disebelah kanan mihrab terdapat mimbar yang ditinggikan. Lantainya ditutupi karpet merah sumbangan seorang dermawan dari Kerajaan Arab Saudi.

Bangunan masjid Istiqlal terdiri atas 2 bangunan yaitu bangunan utama dan bangunan pendamping yang memiliki ukuran yang lebih kecil.

Bangunan pendamping yang berukuran lebih kecil ini berfungsi sebagai tempat tambahan untuk beribadah sekaligus sebagai tangga.

Bangunan utama ini dimahkotai kubah dengan bentang diameter sebesar 45 meter.

Makna dari angka “45” melambangkan tahun 1945, yaitu tahun Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia.

Kemuncak atau mastaka kubah utama dimahkotai ornamen baja antikarat dengan simbol Islam yang berbentuk Bulan sabit dan bintang.

Kubah utama masjid ini ditopang 12 tiang ruang ibadah utama yang disusun melingkar pada tepi dasar kubah yang dikelilingi 4 tingkat balkon.

Angka “12” yang dilambangkan oleh 12 tiang menunjukkan makna hari kelahiran nabi Muhammad yaitu tanggal 12 Rabiul Awwal.

Selain itu angka ini juga melambangkan 12 bulan dalam penanggalan Islam (termasuk penanggalan Masehi) dalam masa 1 tahun.

Empat tingkat balkon dan satu lantai utama melambangkan angka “5” yang melambangkan lima Rukun Islam sekaligus melambangkan Pancasila, falsafah kebangsaan Indonesia. Tangga terletak di keempat sudut ruangan menjangkau semua lantai.

Gedung utama dengan ruang salat utama mengarah ke kiblat (Mekkah), sedangkan teras terbuka yang luas mengarah ke Monumen Nasional (Monas).

Kubah Raksasa

Kubah Raksasa

Dengan diameter 45 m, terbuat dari kerangka baja antikarat dari Jerman Barat dengan berat 86 ton, sementara bagian luarnya dilapisi dengan keramik. Diameter 45 meter merupakan simbol penghormatan dan rasa syukur atas kemerdekaan Bangsa Indonesia pada tahun 1945 sesuai dengan nama Istiqlal itu sendiri. Bagian bawah sekeliling kubah terdapat kaligrafi Surat Yassin yang ditulis oleh K.H Fa’iz seorang Khatthaath senior dari Jawa Timur.

Dari luar atap bagian atas kubah dipasang penangkal petir berbentuk lambang Bulan dan Bintang yang terbuat dari stainless steel dengan diameter 3 meter dan berat 2,5 ton. Dari dalam kubah di topang oleh 12 pilar berdiameter 2,6 meter dengan tinggi 60 meter, 12 buah pilar ini merupakan simbol angka kelahiran nabi Muhammad SAW yaitu 12 Rabiul Awal tahun Gajah atau 20 April 571 M.

Seluruh bagian di gedung utama ini dilapisi marmer yang didatangkan langsung dari Tulungagung seluas 36.980 meter persegi.

Pintu Gerbang

Pintu Gerbang

Komplek Masjid Istiqlal dikelilingi pagar setinggi empat meter, terdiri dari tembok setinggi satu meter dan diatasnya berdiri pagar setinggi tiga meter yang terbuat dari bahan stainless steel, baja anti karat sepanjang 1.165 meter.

Semula pagar ini meski dibuat dari bahan baja antikarat dan cukup kokoh, namun tingginya hanya sekitar 1,2 meter ditambah 1 meter tembok sehingga memudahkan keluar masuknya orang-orang yang tidak bertanggung jawab dengan cara melompati pagar tersebut, ditambah lagi dengan pintu gerbang yang sangat mudah dilewati meski pintu tersebut dalam keadaan terkunci.

Sebagai solusinya maka mulai tahun 2007 pagar diganti menjadi lebih tinggi dan indah seperti yang disaksikan sekarang. Pintu gerbangpun diubah dan dipercantik dengan menggunakan alumunium cor dan dirancang memiliki celah-celah yang rapat yang tidak mungkin dilewati oleh manusia.

Saat ini untuk masuk ke wilayah Masjid Istiqlal baik menggunakan kendaraan ataupun berjalan kaki harus melalui pintu gerbang yang terbuka yang masing-masing mempunyai gardu jaga. Pintu-pintu gerbang tersebut terletak di sebelah utara, timur, tenggara dan selatan. Salah satu dari pintu gerbang tersebut diperuntukkan khusus untuk VIP yaitu RI 1 dan RI 2.

Terdapat lima pintu gerbang masuk menuju kompleks Masjid Istiqlal, beberapa gerbang masuk ini dihubungkan ke masjid oleh jembatan yang dibawahnya mengalir sungai Ciliwung dan di kiri kanannya terdapat lapangan parkir yang luas, sedangkan dua buah lainnya di bagian utara tidak dihubungkan dengan jembatan. Gerbang masjid ini terdapat di ketiga sisi kompleks masjid, yaitu sisi utara menghadap pintu air dan jalan Veteran, sisi timur menghadap Gereja Katedral Jakarta dan jalan Katedral, dan sisi tenggara-selatan menghadap jalan Perwira dan kantor pusat Pertamina. Sementara di sepanjang sisi barat terdapat rel kereta api yang menghubungkan Stasiun Gambir dan Stasiun Juanda, di sisi barat ini tidak terdapat pintu gerbang.

  1. Sisi Utara dari arah Pintu Air terdapat satu pintu gerbang yang langsung diarahkan menuju pintu As-Salam. Pada acara kenegaraan biasanya hanya dibuka untuk dilalui para undangan VIP setingkat pejabat negara, para menteri, duta-duta besar perwakilan negara sahabat, pejabat legislatif, pejabat daerah dan undangan VIP lainnya.
  2. Sisi Timur Laut dari arah Katedral terdapat satu buah pintu gerbang berhadapan dengan bangunan gereja Katedral. Pintu gerbang inilah yang dibuka setiap harinya untuk keluar masuk area Masjid Istiqlal dan mulai pada pertengahan tahun 2008 perparkiran menggunakan sistem Check Point.
  3. Sisi Tenggara-Selatan dari arah Kantor Pusat Pertamina dan jalan Perwira terdapat tiga pintu gerbang, satu pintu gerbang ujung selatan tepat di pertigaan Jalan Merdeka Timur dan jalan Perwira searah dengan gedung kantor pusat Pertamina dan Stasiun Gambir, satu pintu di sisi tenggara dekat jembatan Ciliwung, dan satu lagi dekat pertigaan Lapangan Banteng searah dengan gedung Kementerian Agama Pusat. Gerbang tenggara dekat jembatan Ciliwung biasanya dibuka untuk umum hanya pada saat salat Jumat, sedangkan pintu gerbang ujung selatan khusus diperuntukkan bagi Presiden dan Wakil Presiden Indonesia beserta rombongan bila menghadiri acara keagamaan yang diselenggarakan secara kenegaraan di Masjid Istiqlal, seperti peringatan hari-hari besar Islam seperti Hari Raya Idul Fitri dan Idul Adha.

Seluruh pintu gerbang ini dibuka setiap acara resmi kenegaraan, sedangkan untuk hari-hari biasa pintu gerbang yang dibuka hanya pintu dari arah Katedral yang langsung menuju pintu Al-Fattah.

Sedangkan pada bangunan Masjid Istiqlal terdapat 7 buah pintu gerbang yand dinamakan berdasarkan Asmaul Husna.

Ketujuh pintu itu adalah:

  1. Al Fattah (Gerbang Pembuka): pintu utama yang terletak sisi timur laut berhadapan dengan Gereja Katedral. Pintu ini adalah pintu untuk masyarakat umum yang senantiasa terbuka dan terletak di bangunan pendamping dengan kubah kecil diatasnya.
  2. Al Quddus (Gerbang Kesucian): pintu yang terletak di sisi timur laut terdapat di sudut bangunan utama masjid.
  3. As Salam (Gerbang Kedamaian): salah satu pintu utama ini terletak di ujung utara pada sudut bangunan utama. Pintu ini langsung menuju dekat shaf terdepan barisan salat, sehingga pintu ini digunakan untuk tamu penting VIP, seperti ulama, tamu asing, duta besar dari negara muslim, dan tamu penting lainnya pada acara keagamaan penting.
  4. Al Malik (Gerbang Raja): pintu VVIP di sisi barat pada sudut bangunan utama masjid. Seperti pintu As Salam pintu ini juga langsung menuju dekat shaf terdepan barisan salat, sehingga pintu ini digunakan untuk tamu penting VVIP seperti presiden dan wakil presiden Indonesia serta tamu negara yang berkunjung.
  5. Al Ghaffar (Gerbang Ampunan): pintu ini terletak di ujung selatan pada bangunan selasar pelataran, tepat di bawah menara masjid Istiqlal. Pintu ini adalah yang paling dekat gerbang tenggara sekaligus yang terjauh dari mihrab masjid.
  6. Ar Rozzaq (Gerbang Rezeki): salah satu pintu utama ini terletak di tengah-tengah sisi selatan selasar pelataran Istiqlal. Dari pintu ini terdapat koridor yang lurus menghubungkannya dengan pintu Al Fatah di sisi timur laut.
  7. Ar Rahman (Gerbang Pengasih): pintu ini terletak di sudut barat daya bangunan selasar masjid, dekat pintu Al Malik.
Beduk Raksasa

Beduk Raksasa

Pada waktu dulu masjid-masjid di Indonesia dilengkapi dengan bedug yang berfungsi sebagai tanda masuk waktu salat. Bedug dipukul ketika waktu untuk salat tiba, diikuti adzan.

Di Masjid Istiqlal bedug masih ada dan dilestarikan keberadaannya sebagai warisan budaya bangsa, saat ini bunyi bedug direkam kemudian diperdengarkan melalui pengeras suara sebelum adzan dikumandangkan. Bedug tersebut memiliki ukuran yang sangat besar, diletakkan di atas penyangga setinggi 3,80 meter, panjangnya 3,45 meter, dan lebarnya 3,40 meter. Semua terbuat dari kayu jati dari hutan Randu Blatung di Jawa Tengah.

Bedug Masjid Istiqlal panjangnya 3 meter, dengan berat 2,30 ton, bagian depan berdiameter 2 meter, bagian belakang 1,71 meter, terbuat dari kayu meranti merah (shorea wood) dari sebuah pohon berumur 300 tahun, diambil dari hutan di Kalimantan Timur, diawetkan menggunakan bahan pengawet superwolman salt D (fluoride, clirome, dan arsenate)

Dulu bedug di Masjid Istiqlal tersebut dipukul setiap hari Jumat, mendahului adzan Jumat yang dikumandangkan melalui pengeras suara. Belakangan ini suara bedug direkam kemudian diperdengarkan melalui pengeras suara sebelum adzan dikumandangkan. Walaupun fungsi beduk sudah dapat digantikan oleh pengeras suara, dalam menentukan tanda masuk waktu salat, tetapi di Masjid Istiqlal, beduk masih dimanfaatkan. Beduk dipukul sebelum adzan. Selain itu beduk raksasa masjid ini juga berfungsi sebagai hiasan dan sekaligus melestarikan salah satu budaya Islam Indonesia.

Bedug

  • Garis tengah bagian depan : 2 meter
  • Garis tengah bagian belakang : 1,71 meter
  • Panjang : 3 meter
  • Berat : + 2,30 ton
  • Jenis kayu : Meranti Merah (Shorea) dari Kalimantan Timur
  • Umur pohon : + 300 tahun.

Kaki bedug (Jagrag)

  • Tinggi : 3,80 meter
  • Panjang : 3,45 meter
  • Lebar : 3,40 meter
  • Volume kayu : + 3,10 meter kubik
  • Jenis kayu : jati (tectona grandis) dari Randublatung Jawa Tengah.
  • Ukiran : Jepara.

Ukiran pada Jagrag

Tulisan “Allah” di dalam segilima pada 4 tempat. Segi-lima melambangkan : 5 rukun Islam dan 5 waktu sholat.

Tulisan “Bismillahirrahmanirrahim” pada 2 tempat. Tulisan Kalimah Sahadat pada 4 tempat. Surya Sengkala (tahun Matahari) : 1978 dalam seni kaligrafi yang berbunyi :

  • Angesti = angka 8
  • Suwara = angka 7
  • Kusumaning = angka 9
  • Samadi = angka 1

Pada bagian-bagian jagrag seluruhnya terdapat 27 (dua puluh tujuh) ukiran Surya sengkala.

“Nanasan” dengan dua susun kelopak daun, masing-masing menunjukkan Angka 7 dan 8 (daun).

Ukiran pada Bedug

Ukiran surya Sengkala (tahun matahari) : 1978 dalam seni kaligrafi dengan pengertian sama dengan No.4. Pada kayu bedug terdapat 2 (dua) ukiran Surya Sengkala dilingkari segi lima. Dua buah kendit/sabuk dari logam kuningan terukir berfungsi sebagai hiasan. Pada kedua kendit terdapat 11 (sebelas) ukiran Surya Sengkala.

Bahan kayu

Kayu jagrag berbahan jati (tectona grandis) dari Randublatung Jawa Tengah. Bahan kayu bedug dari jenis Meranti Merah (Shorea) dari Kalimantan Timur, umur pohon diperkirakan 300 tahun, sumbangan dari Badan Pelaksana Pembangunan dan Pengelolaan Pengusahaan Proyek Taman Mini Indonesia Indah dan merupakan potongan batang pohon dari koleksi Taman Mini Indonesia Indah.

Bahan kulit

Bagian depan adalah kulit sapi jantan dari daerah Jawa Timur. Bagian belakang adalah kulit sapi betina jenis Santa Gertrudis, umur 2 tahun, sumbangan PT. Redjo Sari Bumi, Tapos, Bogor.

Bahan lainnya

  • Kendit/Sabuk : dari logam kuningan.
  • Gantungan : dari besi baja yang di verchroom.
  • Band penguat : (pada kedua ujung) dari baja anti karat (stainless steel).
  • Paku kulit : dari kayu sonokeling, 90 buah pada bagian depan dan 80Â buah pada bagian belakang.
  • Obat pengawet : Superwolmansalt D (fluoride, chrome, arsenate), konsentrasi larutan kl. 4%, masa rendam 6 (enam) hari.
  • Pemukul bedug : 4 (empat) buah dari kayu jati terukir.

Jagrag/kaki dikerjakan dalam waktu 25 hari, sedangkan bedug dalam 60 hari.

Taman dan Air Mancur

Taman dan Air Mancur

Halaman di sekitar Masjid Istiqlal sebelah utara, selatan dan timur seluas 6,85 Ha dan seluruhnya terdari dari:

Pertamanan seluas 4,15 Ha, dibagi menjadi 23 lokasi dan masing-masing diberi nama sesuai dengan nama pepohonan yang dominan berada di lokasi tersebut. Misalnya Taman Kamboja dan lain-lain. Rindangnnya pertamanan berfungsi juga sebagai hutan kota, dihidupi pula dengan beberapa jenis unggas untuk menambah keindahan komplek Masjid Istiqlal. Dengan demikian menjadikan suasana masjid terasa sejuk sehinnga akan menambah kekhusyuan beribadah bagi para jamaah.

Perparkiran seluas 2,15 Ha, yang dapat menampung kurang lebih 800 kendaraan sekaligus melalui 7 buah pintu gerbang yang ada. Kualitas pengaspalan untuk halaman, parkir dan jalan dibuat dengan methode pengaspalan kelas satu. Sungai Ciliwung mengalir membelah kompleks Masjid Istiqlal. Karena halaman Masjid Istiqlal dikelilingi oleh sungai, maka dibangun pula tiga buah jembatan besar yang lebarnya 18,6 meter dan panjang sekitar 21 sampai 25 meter. Ditambah satu buah jembatan kecil untuk pejalan kaki, kerangka dari jembatan-jembatan ini juga terbuat dari bahan stainless steel. Tepat di taman ini aliran sungai Ciliwung bercabang dua, cabang ke barat mengarah ke Harmoni, Jalan Gajah Mada-Hayam Wuruk, dan kawasan Kota Tua Jakarta, sedangkan cabang ke timur mengarah ke Pasar Baru, Gunung Sahari dan Ancol. Di sisi utara cabang barat terdapat pintu air yang dibangun pada zaman kolonial Hindia Belanda.

Air Mancur, dibangun untuk menambah indahnya panorama kompleks Masjid Istiqlal, di halaman bagian selatan dilengkapi dengan kolam air mancur yang ditempatkan di tengah-tengah, taman air mancur ini seluas 2.803 meter persegi, dan kolam air mancur seluas 8.490 meter persegi, jadi luas keseluruhannya 11,293 meter persegi. Pada bagian tengah kolam dibuat ring penampung air bersih bergaris tengah 45 meter, jumlah nozel pemancar air mancur sebanyak: 1 buah tegak lurus di tengah-tengah cawan air mancur, 17 buah di lingkar luar, dan 8 buah buah di lingkar dalam pada kolam penampungan air bersih. Air mancur ini dapat memancarkan air setinggi 45 meter.