Antara kecerdasan Nabi dan Kecadelan sahabat As’ad

90

Sangat menarik Ceramah Imam Besar, Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar, MA pada Peringatan Maulid Nabi di Masjid Istiqlal, Jumat 23 November kemarin. Beliau mengisahkan peristiwa Fathu Makkah oleh Nabi dan para sahabatnya tahun 11 hijriyah. Tatkala kaum kafir Makkah yg dipimpin Abu Sufyan sudah terkepung, ternyata Nabi saw tidak memberlakukan adat sebagaimana yang biasa berlaku pada peperangan, yaitu penyerbuan habis habisan dan menjadikan musuh sebagai tawanan dan budak. Tindakan yang tak disangka sangka oleh Nabi saw adalah mengumumkan dekrit cinta damai ( Yaumul Marhamah) dengan 3 hal : 1 barang siapa yang masuk Masjid Haram ia aman. 2 barang siapa yang masuk rumah Abu Sufyan ia aman. 3. barang siapa yang masuk rumahnya sendiri dan mengunci pintu ia aman.
Dengan dekrit Yaumul Marhamah ini maka proses penaklukan kembali kota Makkah berjalan tanpa tumpah darah setetespun.
Dalam suasana damai tersebut tiba tiba masyarakat Makkah dikagetkan oleh Sahabat As’ad yang keliling kota Makkah sambil meneriakkan yel yel “Hadza Yaumul Malhamah”. (Ini Hari pertempuran).
Maka Abu Sufyan pun kaget dan marah lalu segera menemui Nabi untuk komplain. Mengira Nabi tidak konsisten dengan dekritnya Yaumul Marhamah.
Antara kalimat ” Yaumul Marhamah dan Yaumul Malhamah” hanya beda huruf R dan L . Namun artinya sangat kontras bahkan berlawanan.
Menanggapi komplain Abu Sufyan itu, dengan tenang Nabi mengatakan ” Jangan salah paham dengan apa yang diteriakkan oleh As’ad. Sesungguhnya dia itu cadel. Kata Yaumul Marhamah yang berarti hari rahmat diucapkan nyaYaumul Malhamah”, yang artinya berubah menjadi hari pertempuran.
Maka tenang dan fahamlah Abu Sufyan dengan jawaban Nabi tersebut.
Yang menarik lagi, seperti disampaikan oleh Imam Besar, bahwa jawaban Nabi yang mengatakan As’ad Cadel itu belum tentu bahwa ia memang cadel. Tetapi kecerdasan Nabi secara sepontan dengan mengatakan bahwa As’ad cadel, sebagai alibi untuk menenangkan Abu Sufyan dan kaum kafir Makkah saat itu yang sudah ketakutan.
Itulah sikap bijak Nabi Muhammad saw. sebuah potensi kekeliruan yg bisa berakibat fatal bisa diselesaikan dengan sikap cerdas dan cermat. (BSA)